Menjadi Bagian dari Perubahan dengan Gerakan Sosial

Casandra Aleksia

 

”We will fight, not out of spite. For someone must stand up for what’s right. Cause where there’s a man who has no voice, there ours shall go singing.” (Jewel – Hands) 

”Activist” Is a Strong Word

Mungkin saya tidak akan menyebut diri saya aktivis, karena masih banyak pemuda di luar sana yang lebih pantas menyandang predikat tersebut. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial menurut saya adalah cara saya menunjukkan rasa cinta untuk sesama, terlepas dari suku, ras, dan agama. Karena cinta itu untuk siapa saja. Partisipasi ini juga merupakan wujud rasa syukur saya kepada Allah SWT karena masih diberi umur dan kesehatan. Rasa syukur ini saya tuangkan dalam bentuk partisipasi di kegiatan sosial. Walau kontribusi saya masih sangatlah kecil, saya berharap bisa bermanfaat.

Semua bermula sejak saya berkenalan dengan English Department Community dan Badan Eksekutif Mahasiswa di bangku kuliah. Dari sana saya jadi banyak terlibat dalam berbagai macam kegiatan sosial, mulai dari menyantuni panti jompo, mengumpulkan sedekah bagi masyarakat yang membutuhkan, dan membantu korban bencana alam. Di dalam berbagai kegiatan ini saya jadi menyaksikan sendiri realita hidup dari masyarakat yang membutuhkan. Banyak dari mereka yang bahkan di usia lanjut pun harus tetap bekerja membanting tulang untuk menyambung hidup. Ada juga yang kehilangan sanak saudara dan rumah karena bencana alam.

Partisipasi saya dalam Study of The United States Institutes for Student Leaders di Indianapolis, Amerika Serikat juga membuka kesempatan bagi saya untuk membantu Habitat for Humanity dalam membangun rumah untuk para single parents dan membagikan makanan bagi masyarakat yang membutuhkan. Hal yang cukup memprihatinkan bahwa di negara maju pun masih banyak masyarakat yang memerlukan uluran tangan, apalagi negeri kita sendiri?

Hal lain yang meyakinkan saya untuk terlibat dalam kegiatan sosial adalah pengalaman ketika masih berdinas di Aceh dan Manado untuk salah satu Badan Usaha Milik Negara. Saya menemui para ibu yang harus berjualan sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setelah bencana tsunami yang menewaskan suami mereka. Banyak anak muda yang harus berjuang sendiri karena kehilangan keluarga tercinta dan tempat tinggal. Di Manado, lewat interaksi dengan warga lokal, saya menemui beberapa pemuda yang diharuskan bekerja di usia dini demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Demi sesuap nasi, mereka mengorbankan pendidikan mereka di sekolah. Padahal pendidikan dasar itu sangatlah penting untuk membentuk karakter bangsa.

Berawal dari situlah saya kemudian memilih untuk terjun di bidang pembangunan dan sosial. Setelah membantu di salah satu program pemberdayaan perempuan, kini saya sedang bekerja untuk pembangunan berkelanjutan di bidang lingkungan (environmental sustainability program). Kedua program ini berkaitan dengan hal yang saya memiliki ketertarikan besar di dalamnya, yakni pengentasan kemiskinan.

Menurut saya, pengentasan kemiskinan harus dilakukan dari akarnya dan dilakukan secara berkelanjutan. Bantuan sosial berupa pemenuhan kebutuhan tentunya bagus, tapi akan sangat bagus jika disertai dengan pembangunan kemampuan dan karakter.

Seandainya saya diberi kesempatan untuk membangun organisasi sendiri, saya ingin sekali membangun sebuah organisasi non-profit di bidang pengembangan bakat (softskills) dan pembinaan sosial untuk anak-anak yang membutuhkan. Karena saya senantiasa meyakini bahwa pendidikan merupakan salah satu kunci pengentasan kemiskinan.

 

Antara Keluarga dan Kegiatan Sosial

Alhamdulillah di dalam rumah tangga saya sendiri pun, saya tidak mengalami kendala ketika menyeimbangkan antara keluarga dan kegiatan sosial. Kebetulan suami saya juga merupakan pribadi yang sangat tertarik dengan pembangunan bangsa dan pengentasan kemiskinan. Beliau lebih banyak terjun di organisasi-organisasi kepemudaan dan justru aktivitas-aktivitas beliau inilah yang malah menginspirasi saya untuk lebih banyak memberi dan berkontribusi dalam setiap kesempatan.

Kami juga tidak pernah membeda-bedakan mana yang harus saya kerjakan dan mana yang harus suami kerjakan. Beliau ikut membantu di ranah domestik, begitu juga saya terkadang memberikan masukan dan dukungan di ranah profesional. Semuanya berjalan dengan seimbang dan beriringan karena berlandaskan pada rasa saling menghormati.

Task management yang baik juga kami lakukan. Kami biasanya saling memastikan agenda kegiatan masing-masing di setiap minggunya. Dari situlah kami dapat menjalankan task management dan kegiatan sosial secara seimbang. Semoga kerja sama kami ini memberikan dampak yang positif tidak hanya bagi kami berdua saja, namun juga bagi orang lain di sekitar kami yang kami temui.

Selama kita masih bisa membantu orang lain, kenapa tidak dibantu? Harus ada seseorang yang memulai segalanya bukan?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s