Cat Is a Medicine for Our Soul

Astaria Purwaningrum

 

 

I love cats because I enjoy my home; and little by little, they become its visible soul.” – Jean Cocteau

Kenapa kucing? Kenapa ya? Aku juga bingung sendiri sih kalau disuruh jawab pertanyaan kenapa suka kucing. Soalnya perasaan suka itu kadang gak harus ada alasannya. Pada dasarnya aku suka sama binatang lainnya juga, hanya saja aku lebih familier sama yang namanya kucing. Kucing selalu ada dalam beragam fase kehidupanku selama ini.

Dari kecil kucing sudah jadi sahabatku. Aku masih ingat waktu SD ada kucing kecil di depan rumah. Kayaknya dia baru saja ditinggal induknya. Kasihan banget pokoknya. Udah kotor, kelaparan juga. Bapak waktu itu langsung inisiatif mengambil dan memelihara kucingnya. Aku masih ingat kejadian itu. Makanya sampai sekarang aku punya impian mendirikan shelter buat kucing-kucing liar. Kalau ketemu kucing liar di jalanan rasanya sedih banget. Apalagi pas musim hujan. Pengin banget bisa menolong semua kucing liar yang kutemui.

Dari situ pengalamanku dengan kucing berawal dan berlanjut sampai sekarang. Karena sayang banget sama semua kucing yang kupunya, kalau liat salah satu kucingku di-adopt orang lain, pasti sedih banget rasanya. Mungkin bukan favorit, tapi ada satu kucing yang paling berkesan. Namanya Gendut. Dia kucing pertama yang aku pelihara waktu pindah ke Solo. Setelah pindah, aku tinggal sendiri dan merasa kesepian banget. Pagi harinya tiba-tiba ada yang mengeong di depan rumah. Ada kucing jantan putih yang masih bayi mengeong di depan pintu. Kayak dia minta dibukakan pintu. Aku langsung membawanya masuk dan memeliharanya. Buatku, Gendut itu kucing yang paling “mudengan” kalau kata orang Jawa. Dia itu kucing yang paling ngerti kalau diajak ngobrol atau disuruh-suruh.

Ada juga pengalaman lain yang aku ingat sewaktu masih tinggal di Payakumbuh. Waktu adikku masih bayi, kucingku melompati adik yang lagi tiduran di lantai. Aku sempat kaget karena aku kira dia gigit adik. Ternyata dia gigit kelabang yang ada di dekat adik. Untung kelabangnya belum mencelakai adik. Aku lega banget setelah tau itu. Kucingku bener-bener jadi lifesaver.

Bagiku, kucing itu sudah jadi bagian dari anggota keluarga. Walaupun kadang mereka susah diajarin, gak peka (kayak kamu… iya kamu), dan sering nakal, tapi yang namanya sudah jadi keluarga pasti tetap sayang. Kadang nakalnya mereka itu malah yang bikin mereka lucu.

Mereka juga constant companion. Pas lagi ada masalah dan gak bisa cerita ke siapa pun, mereka bakal selalu nemenin aku. Bahkan cuma lihat mereka tidur di pangkuanku saja sudah bikin perasaan jadi lebih baik. Sometimes the best cure for sadness is a cat purring on your lap. Having cats also makes me less lonely. Cat is a medicine for your soul.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s