Menyelaraskan Perbedaan

Sejarah telah mencatat bahwa perbedaan yang paling awal, mencolok, dan mendasar di alam semesta ini adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Sejak Adam dan Hawa diciptakan, hingga tulisan ini dibaca, perbedaan tersebut masih saja ditemui dengan mudahnya. Namun uniknya, perbedaan itu dapat dikompromikan dalam sebuah ikatan bernama pernikahan. Ajaibnya, sebuah pernikahan mampu mengikat sepasang laki-laki dan perempuan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya meskipun beragam perbedaan sering ditemui dalam kesehariannya.

Beberapa minggu lalu, kedua sahabat saya saat menjadi relawan komunitas Earth Hour Solo, Faizal Kusuma Jati dan Firli Safirani, melangsungkan pernikahannya untuk memulai fase kehidupan berdua. Tentu saya yang mengetahui bagaimana mereka saling jatuh cinta dan menjalin hubungan ikut berbahagia atas pernikahan tersebut. Setelah beberapa tahun, perjalanan panjang mereka pun akhirnya dimulai.

Kisah Faizal dan Firli menjadi contoh bagaimana sebuah perbedaan dan keberagaman latar belakang dapat dibina dalam bingkai pernikahan. Bukan untuk mengubah satu sama lain, namun memunculkan potensi masing-masing agar menjadi sosok yang lebih baik.

 

Menghadapi Sebuah Perbedaan

“Barang siapa tidak tahu kekuatan dirinya, tidak tahu kelemahan dirinya. Barang siapa tidak tahu kedua-duanya, dia pusing dalam ketidaktahuannya.”

Pramoedya Ananta Toer, Arok Dedes

 

Faizal adalah sosok yang senang bercanda, sedangkan Firli adalah sosok yang sedikit lebih tenang dibandingkan pasangannya. Perbedaan mendasar itulah yang pada awalnya membuat Firli tertarik dengan sosok Faizal. Perbedaan itu pulalah yang berhasil membuat Firli tertawa dan merasakan kenyamanan ketika bersama Faizal. Apalagi di balik sifat Faizal yang gemar bercanda, ternyata dia memiliki komitmen serius untuk hubungan mereka. Bagaimana mungkin Firli menolak niat baik Faizal untuk menjalani hubungan tersebut?

Perjalanan menuju pernikahan memang tidak begitu saja meluncur mulus. Ada beragam perbedaan yang harus mereka hadapi, kompromikan, dan selesaikan terlebih dahulu. Bukan hal yang mudah memang menghadapinya. Bahkan Firli pun sempat berpikir untuk menyerah dengan hubungan yang telah mereka jalani sebelum menikah. Tidak disangka Faizal mampu meyakinkan Firli dengan komitmen yang telah dibuatnya dan berjanji mewujudkan komitmen tersebut. Memang benar bahwa tanggung jawab seorang laki-laki diukur dari kebesaran hatinya.

Bagaimana pun juga menyatukan dua kepala dalam sebuah hubungan akan memunculkan perbedaan. Perbedaan memang dapat menjadi ancaman dalam sebuah hubungan. Namun di sisi lain, perbedaan juga dapat menjadi perekat sebuah hubungan. Tergantung bagaimana setiap individu menentukan sikap dalam mengatasi perbedaan tersebut. Perbedaan harus dimaklumi dan diterima satu sama lain agar tidak semakin memperburuk keadaan.

Mereka berdua menyadari sepenuhnya bahwa perbedaan yang muncul wajib didiskusikan terlebih dahulu untuk kepentingan bersama. Hidup tak lagi tentang diri sendiri, namun telah menjadi kehidupan dua orang yang membangun rumah tangga bersama. Tidak ada lagi ’aku’ dan ’kamu’, yang ada hanyalah ‘kita’.

Segala sesuatu dapat diselesaikan dengan bahasa dan momen yang tepat. Oleh karena itulah komunikasi menjadi cara terbaik untuk mengatasi sebuah perbedaan. Ketika sebuah perbedaan berujung pada konflik, berkomunikasi untuk menyelaraskan perbedaan tersebut menjadi satu-satunya cara yang harus dilakukan. Ketika tidak ada iktikad baik dari para pasangan untuk berkomunikasi dan saling memahami, bisa dipastikan konflik akan semakin memburuk.

Faizal sendiri meyakini bahwa sebuah perbedaan pada dasarnya perlu agar dapat lebih menghargai diri sendiri. Bagaimana bisa menghargai orang lain kalau menghargai diri sendiri saja belum bisa? Perbedaan menjadi pengingat untuk menghargai apa yang telah kita miliki dan belajar menghargai apa yang dimiliki orang lain. Egoisme kita dilatih untuk melihat kemampuan diri sendiri dan orang lain secara lebih proporsional, sehingga kita menjadi pribadi yang rendah hati. Konsekuensinya, kita pun mampu melihat kelebihan orang lain dengan penghargaan, bukan rasa iri, benci, dan dengki.

Kesatuan Alam Semesta

Perlu diingat bahwa manusia hanyalah bentuk dari energi semesta yang saling terhubung satu sama lain. Apa yang ada di semesta, termasuk manusia di dalamnya, adalah kesatuan energi yang saling terikat. Perbedaan dapat dilihat sebagai anugerah ketika manusia dapat melihat perbedaan sebagai penyeimbang.

Dalam sebuah hubungan, perbedaan dapat menjadi cara semesta untuk menyelaraskan energi kedua pasangan. Layaknya kepingan jigsaw puzzle yang saling melengkapi atau pergantian siang malam yang saling mengisi. Sebuah perbedaan akan menjadi konflik berkepanjangan ketika ada pasangan yang ingin selalu benar dan unggul tanpa mau menerima perbedaan tersebut. Egoisme atau keakuan adalah penyabotase utama keselarasan energi, sedangkan kesediaan untuk mengalah dan meredam egoisme merupakan jalan untuk menyelaraskannya.

Dalam hidup, tidak ada manusia yang sama sekali identik. Akan ada perbedaan dari setiap individu yang menjadikannya unik dan berbeda. Perbedaan terbentuk dari pengalaman sejak kecil, mulai dari didikan orang tua, pendidikan di lingkungan, kemampuan memahami gejala alam, proses menghadapi dan menyelesaikan masalah, bacaan yang mereka baca, dan beragam hal tak terhingga yang mengisi hari-harinya. Maka dari itu, hal yang mustahil untuk meniadakan sebuah perbedaan.

Tidak masalah ketika perbedaan muncul dalam sebuah hubungan. Yang terpenting adalah bagaimana setiap pasangan dapat melihat perbedaan tersebut sebagai hal yang saling menguatkan, bukan malah melemahkan. Selalu ada alasan baik mengapa kedua orang saling dipertemukan, dan tentunya ada jauh lebih banyak alasan baik mengapa keduanya diikat dalam tali pernikahan.

 

 

photo_2017-10-23_19-46-02

Semoga kedua sahabat saya, Faizal Kusuma Jati dan Firli Safirani, senantiasa menemukan makna dalam menghadapi perbedaan dalam pernikahannya. Selamat berbahagia!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s