Menanam Bibit Kebaikan untuk Masa Depan

“Put out fear and they’ll feel fear. It’s a chain reaction. Put out love and they’ll feel love. It’s a chain reaction.”

Cloud Cult – Chain Reaction

 

Ada yang bilang bahwa dunia dewasa penuh dengan drama dan tipu daya karena selalu mengeluhkan beragam hal, mulai dari cuaca, politik, ekonomi, hingga kucing tetangga yang lewat depan rumah. Terlebih saat menengok newsfeed dan berita online dengan beragam konflik berkepanjangannya. Mulai dari problematika kemiskinan dan mental korupsi yang semakin menjadi-jadi, unjuk rasa memperjuangkan hak asasi, hingga kawanan gajah yang habitatnya semakin terimpit.

Berita yang berisi perbedaan pandangan bisa langsung menyulut kemarahan dan perang tak berkesudahan di kolom komentar. Tak jarang pula grup keluarga besar yang semula adem ayem dapat tersulut emosi saat mendapat ’copas dari grup sebelah’ seputar perbedaan. Tidak mudah memang menghadapi sebuah perbedaan. Apalagi manusia memiliki kecenderungan ego untuk selalu merasa paling benar. Maka hal yang wajar ketika citra dunia dewasa diidentikkan dengan drama dan beragam permasalahannya.

Pada dasarnya kebaikan tidak sepenuhnya mati. Jika berusaha mencari, masih dapat ditemukan kebaikan bertebaran di mana saja, bahkan di tempat-tempat yang sepertinya tidak ada kebaikan sekalipun di dalamnya. We found love in a hopeless place, itu kalau kata Rihana.

Kebaikan juga memiliki sifat menular. Kebaikan yang dilakukan oleh seseorang mampu memotivasi orang lain untuk melakukan kebaikan yang sama, atau bahkan lebih besar. Kebaikan inilah yang nantinya mewujud menjadi rantai kebaikan yang saling terjalin menuju keabadian.

 

Bibit-Bibit Kebaikan

Perkenalkan Alivya Zara Alodya, keponakan pertama saya keturunan Sunda-Jawa yang lahir tahun 2014 silam. Nama akhirnya diambil dari nama kereta api Lodaya jurusan Bandung-Solo andalan ayahnya saat menjalani fase LDR dengan ibunya dulu. Karena jasa kereta api yang telah mempertemukan kedua orang tuanya untuk saling melepas rindu, akhirnya nama Lodaya diadaptasi sebagai nama dari bocah cilik ini.

Ternyata Desember besok Alivya, atau biasa dipanggil Vya, sudah berumur tiga tahun. Kata orang angka tiga adalah angka ajaib, semoga tahun ketiga ini memang benar-benar menjadi awal yang ajaib untuk tahun-tahun perjalanan hidupnya nanti.

Bagi Vya saat ini, dunia masih sebatas spektrum warna-warni pelangi. Belum ada hoax dan newsfeed yang dapat membuatnya menangis. Jikapun menangis, itu karena ia ngantuk dan ingin bobok. Baginya dunia masih penuh dengan kebaikan, kegembiraan, dan kedamaian.

Saya tidak tahu seperti apa dunia yang akan dia hadapi 20 tahun mendatang. Yang pasti akan jauh berbeda dibandingkan sekarang. Apakah lebih baik? Tidak ada yang tahu, walaupun semua orang berharap seperti itu. Yang dapat dilakukan hanyalah mengerjakan apa yang dapat diselesaikan saat ini untuk menciptakan dunia yang diharapkan nanti.

Saya melihat bahwa Vya (dan anak-anak seusianya atau beberapa tahun sebelum maupun setelahnya) adalah bibit kebaikan untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Mereka adalah wujud dari sebuah keyakinan, keyakinan bahwa kebaikan dapat diteruskan hingga ke generasi-generasi selanjutnya.

 

Mewariskan Kebaikan

If you think in terms of year, plant a seed; if in terms of ten years, plant trees; if in terms of 100 years, teach the people.
Confucius

Kita memang tidak bisa memprediksi akan seperti apa kehidupan mereka esok hari. Yang dapat kita lakukan hanyalah memberikan bekal secara mental dan spiritual kepada mereka sejak dini. Kita memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk menumbuhkan bibit-bibit kebaikan agar kebaikan tersebut senantiasa hidup bersama mereka. Bagaimanapun juga mereka adalah harapan, angin perubahan, dan pembawa pesan perdamaian masa mendatang.

Tidak ada kebaikan sekecil apa pun yang tidak baik. Mengajarkan kebaikan sejak dini kepada anak-anak seperti Vya merupakan salah satu cara yang paling masuk akal untuk menciptakan dunia yang tetap baik saat mereka telah beranjak dewasa nanti. Kebaikan kecil seperti senyuman tulus kepada orang lain, berbakti kepada orang tua, melestarikan lingkungan, atau sekadar membantu mereka yang butuh pertolongan sudah cukup sebagai fondasinya. Bayangkan seandainya kebaikan-kebaikan tersebut terakumulasi dan dilakukan bersama-sama. Pastinya akan tercipta kebaikan yang jauh lebih besar dan semakin berdampak.

Ketika kebaikan mendominasi, hal-hal buruk yang berawal dari egoisme pribadi, seperti tersulutnya emosi karena perbedaan, akan semakin tereduksi. Memang menumbuhkan bibit kebaikan butuh kesabaran, namun hasil yang didapatkan akan sangat sepadan. Bukankah menyenangkan dan melegakan ketika kebaikan yang telah kita ajarkan menjadi bagian dari kepingan mosaik perdamaian dunia? Tidak hanya untuk saat ini, namun untuk seterusnya nanti.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s