Kita Menciptakan Bintang

Make my messes matter, make this chaos count. Let every little fracture in me shatter out loud.”

Sleeping at Last – Jupiter

 

d82bbf479b289426a43f992be849a394-human-eye-human-bodyneuron-galaxy3

 

We carry the universe within us. Kita membawa alam semesta dalam diri kita. Gambar-gambar spektakuler tersebut menunjukkan bahwa ada relasi antara sel-sel tubuh dengan alam semesta. Mata serupa dengan nebula, jaringan sel otak terlihat seperti jaringan serat di alam semesta. Kesamaan ini sekali lagi menunjukkan bahwa kita membawa semesta di dalam diri kita.

 

Apalagi manusia adalah bagian dari alam semesta itu sendiri. Maka bukan sesuatu yang keliru apabila terdapat alam semesta menetap di dalamnya. Saya pernah membayangkan jika tubuh ini adalah alam semesta, maka ada miliaran bintang di sana. Dan mengetahui bagaimana proses bintang terbentuk menyadarkan saya sebuah perumpamaan bagaimana proses kedewasaan manusia tercipta.

Secara garis besar, pembentukan bintang dimulai saat terjadinya ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul. Ketidakstabilan tersebut dipicu oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Ketika kerapatan materi sudah memenuhi syarat, awan tersebut mulai runtuh karena gaya gravitasinya sendiri. Keruntuhan inilah yang nantinya menjadi bintang-bintang yang mengisi gugusan alam semesta.

Pembentukan bintang tidak terlepas dari ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan itu sendiri selalu diasosiasikan dengan kekacauan, kegemparan, ketidaknyamanan, maupun segala sesuatu yang berhubungan dengan ketidakteraturan. Meskipun begitu, setelah ketidakseimbangan tersebut berakhir, terbentuklah bintang-bintang baru yang menghiasi alam semesta di atas sana.

Sama halnya dalam diri manusia. Mustahil rasanya manusia terbebas dari ketidakseimbangan, baik hati maupun pikiran. Ketidakseimbangan tersebut menciptakan kekacauan dan hal-hal tidak nyaman lainnya. Bahkan tak sedikit mereka yang merasa benar-benar kacau ingin mengakhiri hidupnya. Kekacauan itulah yang sebenarnya menjadi awal proses pembentukan bintang di dalam diri manusia. Kekacauan itulah yang menjadi penentu bagaimana ia membentuk dirinya. Kekacauan itulah proses untuk dapat naik ke level selanjutnya.

Ketika proses pembentukan tersebut dirasakan, memang akan terasa sangat menyakitkan, melelahkan, menyedihkan, bahkan terkadang melemahkan. Akan tetapi, ada satu hukum alam yang memengaruhi apa pun di alam semesta ini, bahwa segala sesuatu ada masanya. Rasa sakit, lelah, sedih, dan perasaan ingin menyerah tersebut ada saatnya untuk berakhir. Kekacauan tersebut memiliki masanya untuk mereda. Dan berita gembiranya adalah setelah kekacauan mereda, muncul perasaan lega dan tenang membersamainya.

Inilah proses pendewasaan. Inilah proses terbentuknya bintang-bintang baru dalam diri manusia. Anggaplah bintang-bintang tersebut adalah kebijaksanaan, pengetahuan, atau sifat yang semakin memperkaya jiwa.

Jadi ketika kita merasakan ketidakseimbangan yang luar biasa hebat di dalam diri, anggaplah bahwa alam semesta di dalam sana sedang bergejolak menciptakan bintang-bintang baru. This too shall pass, hadapilah proses tersebut. Salurkan apa yang menjadi kegelisahan agar lebih meringankan. Selalu pusatkan perhatian pada hal positif dan membangun. Karena proses tersebut pada akhirnya akan terlewati. Dan ketika telah terlewati, tentu akan lebih menyenangkan untuk melihat bintang-bintang baru yang tercipta di dalam sana bersinar terang menerangi jiwa.

 

 

 

Advertisements

One thought on “Kita Menciptakan Bintang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s